A walk to remember..

I tell you I intend that the time you spend with me won’t be forgotten when it’s past..


Live for This Day!

Setelah sekian lama akhirnya saya bisa memposting tulisan lagi. Tulisan ini saya terima tadi pagi dari sebuah email yang dikirim oleh kakak saya. Saya sangat terkesan dengan isinya sehingga saya putuskan untuk mengcopy di blog saya. Saya tau ini bukan tulisan original-nya. Siapapun orang pertama yang pernah menulisnya, saya numpang copy ya tapi jika anda keberatan tulisan ini saya muat silahkan beritahu saya nanti saya retrieve :)
Eniwey, this quote is so so inspiring me! something really strikes me too :(

HANYA ADA 3 HARI DALAM HIDUP INI
 

YANG KE-1 : HARI KEMARIN
Kamu tak bisa mengubah apapun yg telah terjadi…
Kamu tak bisa menarik perkataan yg telah terucapkan…
Kamu tak mungkin lagi menghapus kesalahan…
Dan mengulangi kegembiraan atau kesedihan yg kamu rasakan kemarin…
Biarkan hari kemarin lewat…
LEPASKAN saja…

YANG KE-2 : HARI ESOK
Hingga mentari terbit esok hari, kamu tak tahu apa yg akan terjadi…
Kamu belum bs melakukan apa-apa untuk hari esok…
Kamu tak mungkin tahu…
Sedih atau ceria diesok hari…
Karena hari esok belum tiba…
BIARKAN saja…

YANG TERSISA KINI HANYALAH : HARI INI
Pintu masa lalu telah tertutup…
Pintu masa depanmu blm tiba…
Pusatkan saja dirimu untuk hari ini…
Kamu dpt mengerjakan lebih banyak hal untuk hari ini…
Bila kamu mampu melupakan hari kemarin…
Dan melepaskan ketakutan akan esok hari…
HIDUPLAH HARI INI…!!!

Karena masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yg rumit…
Hiduplah apa adanya…
Karena yang ada hanyalah hari ini…
Perlakukan setiap orang dgn kebaikan hatimu dan rasa hormat…
Meski mereka berlaku buruk pada kamu…
Sayangilah seseorang sepenuh hati hari ini…
Karena mungkin esok cerita sdh berganti…
Ingatlah bhw kamu menunjukkan penghargaan kepada orang lain, bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri kamu sendiri…
Jadi jangan biarkan masa lalu mengekangmu, atau masa depan membuatmu bingung…
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu… Sepenuh jiwa ragamu…

Berterima kasihlah pada orang yg telah melukai hatimu, karena dia telah membuat hatimu kuat…
Berterima kasihlah pada orang yg telah membohongimu, karena dia membuat hidupmu makin bijaksana…
Berterima kasihlah pada orang yang telah membencimu, karena dia yang mengasah ketegaranmu…
Dan berterima kasihlah pada orang yg telah menyayangimu, karena dialah ANUGERAH TERINDAH dalam hidupmu…

Have a wonderful day every one!

two become one..

Dear mom and dad,

You two are an inspiration to the world.
Looking at you, we know that soul mate can find and keep each other,
commitment means something, a great team can overcome life’s troubles,
and love triumphs over all.

Through time your bond is strong;
It lasts through sun and storm;
You’ll always have your love
To keep each other warm

May the good Lord see and bless you,
On your anniversary day.
May He always be your companion,
And guide you on your way.

May your bonds of marriage strengthen,
Holding strong amidst all fears.
Through the wearing of the years.

Your anniversary marks the day
When you both said “I do.”
The two of you became as one,
A marriage bright and new.

Now time has passed; your love is strong;
You passed the early test.
Your tender bond grows with passing time;
Your marriage is the kind that’s best!

Happy anniversary 31st to you both our beloved parent :)
Have a bright and happy day.
Your marriage sets an example;
It shines in every way.

We love you, thank you for everything that you have done for us :)

December 23rd, 1979 – December 23rd, 2010

*original poems by Karl and Joanna Fuchs
edited by me ;)

Happy mother’s day mom :)

Yesterday there were a lot of wishes been prayed to you
All the journey of your life
All passion and joy you shared
And also your sparkling tears that made what you were now..
So, thank you for the love you give to us and show us your compassion as a woman, a wife, and a lovely mother forever
God bless us :)

we love you mom, happy mother’s day..

your children
wendy, lusy, benny

*ditulis ulang dari SMS yang dikirim si dek benot :)

Just be happy!

Suatu ketika, di tepian telaga  kelihatan seorang pemuda sedang duduk termenung. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah dilaluinya, namun tidak ada satupun titik yang membuatnya puas :( Kekosongan makin senyap, sampai ada suara yang menyapanya. “Sedang apa kau  di sini wahai anak muda?” tanya seseorang. Rupanya ada seorang lelaki  tua. “Apa yang kau risaukan..?”. Anak muda itu menoleh ke samping, “Aku  lelah Pak Tua. Telah berbatu-batu jarak yang ku tempuh untuk mencari  kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku  telah berlari melalui gunung dan lembah, tapi tidak ada tanda kebahagiaan  yang hadir dalam diriku. Kemanakah aku harus mencarinya? Bilakah akan ku temukan rasa itu?”. Lelaki tua itu duduk semakin dekat, mendengarkan  dengan penuh perhatian. Dipandangnya wajah lelah didepannya. Lalu, dia  mulai berkata, “Di depan sana, ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku”. Mereka berpandangan. “Ya… tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan  tanganmu,” Pak Tua mengulangi kalimatnya lagi. Perlahan…. pemuda itu  bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman. Tidak berapa lama,  ditemuinya taman itu. Taman yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga  yang sedang mekar. Maka tidak heranlah, banyak kupu-kupu yang  berterbangan disana.

Dari kejauhan Pak Tua melihat, memperhatikan  tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu. Anak muda itu mulai  bergerak. Dengan mengendap-ngendap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan.  Namun, Hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Dia tidak ingin kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Dia gagal. Dia mulai berlari tak beraturan. Diterjangnya sana-sini. Dirempohnya  rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya  semak dan perdu di sana. Gerakannya semakin liar. Adegan itu terus  berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Si  pemuda mulai kelelahan. Nafasnya semakin kencang, dadanya bergerak  naik-turun dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, “Hentikan dulu anak  muda. Istirahatlah”. Tampak Pak Tua yang berjalan perlahan.

Ada  sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan dan kiri Pak Tua. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu. “Begitukah  caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Merempoh-rempoh tak  tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?” Pak Tua menatap  pemuda itu.“Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin  kauburu, semakin pula ia pergi dari dirimu. Namun, tangkaplah kupu-kupu  itu dalam hatimu. Kerana kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau  genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu  dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari  kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering  datang sendiri.”

Pak Tua mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak  seekor kupu- kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap  kupu- kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu  mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan  yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi  mereka yang mampu menyelaminya..

Lesson learned yang bisa kita petik dari cerita ini bahwa mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka  yang  terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, merempoh sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja  mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun  dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita  santap setelah mendapatkannya. Namun kita belajar. Kita belajar bahwa  kebahagiaan tidak boleh didapat dengan cara-cara seperti itu. Kita  belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di genggam atau benda  yang dapat disimpan.

Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan adalah aroma  dari udara itu. Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam hati.  Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari  kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan  menjauh. Cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita.

Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam  menjalani hidup kita. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah bahagia itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam  ketulusan hati kita. Saya percaya, bahagia itu ada dimana-mana. Rasa itu  ada disekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu “hinggap” di hati  kita, namun kita tidak pernah memperdulikannya. Mungkin juga, bahagia itu  berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk  menikmatinya…

- dikutip dari renungan yang tidak tau asalnya :) -

Praktik di Samping Apotek

Hari ini saya sedang melakukan review terhadap tulisan saya sendiri di borang yang nantinya akan diserahkan ke BAN-PT. Kebingungan kecil namun menyebalkan menyeruak begitu saja. “Astaga, ini kalimatnya sudah baku belum sih? Terus peletakan tanda bacanya sudah benar atau belum?”, setidaknya itu sebaris pertanyaan yang muncul berulang-ulang dalam benak saya. Kehadiran mbah google, wikipedia, dan aneka sumber lain memang sangat membantu, karena merekalah yang selalu menjawab pelbagai pertanyaan-2 yang berterbangan liar dalam pikiran saya. Salah satu sumber yang saya peroleh ini cukup menarik hati sehingga saya memutuskan untuk re-post. Semoga bisa bermanfaat (setidaknya untuk saya sendiri) :)

Praktik di Samping Apotek

Salomo Simanungkalit

Masih saja ada yang bertanya: apotek atau apotik, kantong atau kantung, kokoh atau kukuh, praktek atau praktik, telor atau telur?

Saya jawab saja: pakai semaumu. Toh tak ada beda antara apotek dan apotik, juga telor dan telur. Pedagang di pasar akan menimbang benda yang sama, tak peduli apakah pembeli menyebut telor bebek atau telur bebek.

Dalam bahasa-bahasa berfleksi dikenal gejala bahasa ablaut. Gejala bahasa ini tak lain tak bukan adalah perubahan vokal pada suatu kata menandai pelbagai fungsi gramatikal untuk mengungkapkan perubahan aspek, jumlah, waktu, dan sebagainya.

Pada bahasa Inggris kita kenal drink, drank, dan drunk. Kata itu menggambarkan tindakan yang sama, minum, dengan waktu sebagai pembeda. Pada bahasa Italia tersua bambino dan bambini yang sama-sama berarti anak-anak (lelaki) dengan jumlah sebagai pembeda.

Adakah ablaut pada bahasa Indonesia? Para penulis buku tata bahasa kita menyerap gejala bahasa ini ke dalam bahasa Indonesia untuk menjelaskan perubahan vokal pada suatu kata tanpa berakibat pada perubahan makna. Contohnya? Ya, kata-kata yang terpapar di paragraf pembuka tadi. Jadi, e dan i dalam apotek dan apotik bukanlah fonem sebab keduanya merupakan unit bunyi yang dalam konteks kata itu tidak membedakan arti. Demikian pula o dan u dalam kokoh dan kukuh.

Tentu a dan i dalam lantang dan lintang, demikian pula e dan u pada pare dan paru, misalnya, masing-masing merupakan fonem sebab keduanya menciptakan makna yang berlainan.

Sayang seribu kali sayang, kekayaan perangkat linguistik yang diwakili gejala bahasa ablaut ini tidak terakomodasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Kamus ini menetapkan salah satu saja yang baku: apotek, kukuh, praktik, dan telur. Padahal, bahasa kita akan lebih hidup dengan mengizinkan keduanya setara untuk kegiatan kreatif dalam mengekspresikan perasaan. Misalnya, untuk menciptakan irama atau efek bunyi dalam suatu ungkapan, kalimat, paragraf, maupun wacana.

Oleh Pusat Bahasa, apotek dan praktik ditetapkan sebagai bentuk baku karena alasan paradigma. Demi apoteker, apotik harus dianggap liar sebab deretan paradigmatik mengharuskan apotek-apoteker. Demikian pula praktek harus tersingkir demi deretan paradigmatik: praktik-praktikan-praktikum.

Maka, kalau ada ”praktek dokter di samping apotik”, ungkapan itu, menurut Pusat Bahasa, harus menjadi ”praktik dokter di samping apotek” meski dokter yang bersangkutan menggunakan praktek di papan nama mereka dan di sebelahnya beroperasi ”Apotik X”.

Sementara Pusat Bahasa mengecam ungkapan ”praktek dokter di samping apotik”, ada juga yang mempertanyakan: menyalahi undang-undangkah dokter yang membuka praktik di samping sebuah apotek?

Source:

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/08/01591147/praktik.di.samping.apotek

Terlukis Abadi

JEMARI lemah gemulai itu berjingkat dari satu tuts ke tuts yang lain, alunan musik syahdu terdengar menggema dalam tempat ibadah itu. “Lucu sekali dia, sosoknya mengingatkanku pada laki-laki hebat belahan jiwa ibundaku tersayang. Dia, mirip sekali dengan ayahku ketika sedang menekan tuts untuk memilih resonator sehingga menghasilkan tinggi rendah nada.. Nada harmonis sekaligus sebagai pengiring yang baik dalam paduan suara non-musisi.. Dia laki-laki pertama yang bisa membuatku ‘menoleh dua kali’. Argh, ingin sekali aku berkenalan dengannya. Seperti aku melihat bayangan ayahku dibalik dirinya”, ungkap Venny dalam hati kecilnya saat itu.

Hari itu Venny menjalani aktivitas tugas koor untuk perayaan ekaristi harian senja dengan hati berbunga-bunga. Bagaimana tidak, semenjak terjaga dari tidur karena ayam berkokok dini hari, dia sudah menantikan kapan senja hati tiba. Dia ingin sekali mengenal siapa sosok misterius dimatanya itu.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, setelah ekaristi selesai si sosok misterius itu mengajaknya berkenalan dan mengajak bertukaran nomor ponsel. Selesai berdoa, Venny meninggalkan gereja dan duduk termangu di balkon gereja. Menanti hadirnya hasrat yang membawanya kembali ke peraduan, Venny memutuskan bahwa dirinya akan menjadi pendamping sementara bagi kehadiran sang rembulan malam itu. Dalam hamparan pikiran tak beritme, sang sosok misterius yang ternyata bernama Rendra menghampirinya. Malam itu rangkaian kata yang saling terucap dan dinginnya udara malam itu mencoba menyatukan dua jiwa dalam kebekuan. “Terlalu berlebihankah atau terlalu cepatkah jika aku berpikir bahwa Rendra tertarik padaku?”, ungkap kesanggupan daya cipta Venny mencoba menebak apa yang sedang terjadi diantara mereka berdua.

Rangkaian kisah yang terjalin diawal masa perkenalan bergojak, Venny sempat kecewa dengan sikap Rendra meski pada akhirnya sebaris pesan singkat yang pernah dibacanya menyadarkannya bahwa dengan memberi kesempatan untuk mengenal seseorang, maka dirinya akan belajar untuk mengasihi.

Sekian lama kebersamaan terjalin dengan rajutan warna-warni alur asmara. Semua begitu indah, Venny merasa bahwa dirinya berada bersama seseorang yang sangat tepat, membuatnya nyaman bak anak kangguru yang berada dalam kantong yang hangat. Memiliki seseorang yang dapat dijadikan sahabat untuk berbagi keluh kesah dan memberikan solusi setiap ada masalah adalah nutrisi bagi hatinya yang labil. Disaat dirinya sedang berkubang dalam kerapuhan hidup dan peliknya masalah yang menjerat masa transisinya menjadi sosok dewasa, Rendralah yang mendampinginya. Bahkan saat raga sedang tidak bersahabat dan hanya membuatnya terbaring di tempat tidur, Rendra selalu hadir menemaninya, menggantikan kerja tangannya ketika mulut hanya mampu terbuka, memberikan obat, menyediakan semua keperluannya, dan selalu mengkhawatirkannya. Bahkan pada akhirnya, dengan berat hati dan disertai keyakinan dia merelakan jarak memisahkan mereka. Sesekali mereka memberikan obat mujarab bagi hubungan yang mulai menjenuhkan dan kembali menyegarkan pikiran dengan berlibur.

MEMORI kebersamaan mereka, semuanya masih tersimpan dengan rapi dalam semua media penyimpan data yang dimiliki Venny. Venny tersenyum melihat salah satu foto kebersamaan mereka ketika sedang memilih-milih buku di kota kembang, dan tak sadar dirinya terhenti lama ketika memandang foto Rendra yang sedang tersenyum. Foto yang telah diambilnya ketika mereka berdua sedang makan sate di salah satu penjaja terkenal di kota itu. “Mas, aku menginginkan fotomu yang sedang tersenyum.. jangan bermuka serius ya..”, Venny mengingat ucapan manjanya kala itu.

“Ven, ini bak suasana di kota pelajar ya, nongkrong sembari mendengarkan wayangan seperti ini?”, suara yang tidak asing ditelinganya itu menyentak lamunan panjangnya. “Astaga, setelah sekian lama ternyata aku masih mengingat dan merindukannya. Rasa yang indah justru tersemat ketika aku sudah tidak bersamanya. Aku sangat merindukan kehadirannya.. Ragaku duduk manis disini tapi jiwaku sedang bermain-main di dimensi lain..”, ungkap Venny dalam hati. Tapi dia sadar, bahwa hidup selalu dihadapkan pada pilihan.. Venny pun mengingat sebuah ucapan yang ditempel pada separator ruangannya, ucapan yang dikirimkan oleh seorang sahabat yang belum dikenalnya in her graduation day. “Your purpose is started from your decision.. “

Meski dengan mata berkaca-kaca, Venny tersenyum, menoleh dan berkata dengan kejujuran hatinya: “Aku sedang mengingat dan merindukannya..”. Suara itu pun menimpali: “Aku paham perasaanmu, entah mengapa aku tidak bisa marah pada dirimu.. Aku senang karena kamu mengutarakan apa yang kamu rasakan..”.  Mereka pun mencoba tersenyum dan kembali menikmati suasana malam itu dengan basa basi berkomentar tak berarti akan pertunjukkan seni yang berlangsung. Semburat ide berpacu dalam benak dua insan tersebut, tatkala hati sadar cangkang yang menaungi mereka bukanlah yang tepat. Hanya kebisuan lah  yang menjadi jawaban kala itu.

“Life is short. There is no time to leave important words unsaid..” ~Paulo Coelho

Facial vs LBC

Wanita oh wanita, mahal sekali biaya hidupmu :) *curhat..
Okay, kali ini saya mau sedikit berbagi cerita mengenai kebiasaan wanita satu ini yang memberi kontribusi pada operating expense bahkan bagi beberapa wanita ini tergolong dalam fixed cost ( mulai ngasal :) ). Biaya apakah itu? Apalagi kalau bukan biaya untuk treatment di beauty clinic. Salah satu yang saya maksudkan disini adalah facial.

Kesempatan ini saya tidak akan membahas biaya kecantikan dari sisi ekonomi karena saya bukan expert dibidang itu, saya hanya akan menceritakan sekelumit aktivitas yang saya lakukan seputar facial.
Tepatnya empat hari yang lalu saya menyantroni London Beauty Center atau yang kerap disingkat LBC. Apalagi kalau bukan untuk rutinitas facial. Rasanya gemes sekali melihat jerawat halus yang bertebaran di muka, apalagi muka saya berminyak jadi ya sesekali ketika kumat malas membersihkan muka, si jerawat justru gencar memasuki pori2 di muka. huhuhu

Mengapa saya memilih LBC? tempat ini saya pilih atas berbagai pertimbangan:
(1) Lokasi yang dekat dengan rumah (sekitar kelapa gading di Wisma Gading)
(2) Ada dokter kulit & kecantikan
(3) Therapis yang pengalaman
(4) Tempat cukup nyaman
(5) Affordable cost! *benchmark: my pocket :)

Sebelum saya “menemukan” dan akhirnya menjadi pelanggan setia di LBC, saya sebelumnya telah mencoba beberapa tempat. Meski demikian, saya belum pernah “tersesat” mendapatkan tempat yang memberikan perawatan sejenis ini dengan harga terlalu mahal karena sebelum memutuskan datang ke tempat perawatan saya selalu mencari informasi (harga) terlebih dahulu by phone.

Beberapa beauty clinic yang saya hubungi memberikan harga perawatan yang wow.. so amazing! Untuk Natasha, tahun 2009 lalu paket facial++ dibandrol dengan harga minimal Rp 220.000 (Natasha Cab Kelapa Gading).  Bahkan paket Martha Tilaar (masih di Gading) dengan harga minimal Rp. 350.000.

Sebenarnya saya sedikit bertanya-tanya, mengapa harga tersebut  (Natasha Jakarta) jauh diatas harga saya dulu biasa facial di Natasha Yogya :( hiks hiks..
Saya pun mengurungkan niat untuk ke Natasha dan mencoba menghubungi LBC, padahal dulu ketika masih kuliah di jogja saya malas sekali kalau facial di LBC karena menurut saya waktu itu cukup mahal, facial++ sekitar Rp. 80.000 – 100.000an. Sementara di Natasha Yogya dulu facial tidak pernah merogoh kocek diatas Rp 50.000. Ternyata kedua tempat ini memiliki strategi masing-masing dalam menggaet customer di wilayah ibukota :D

Saya juga pernah mencoba facial di salon biasa, memang pada umumnya harga facial yang ditawarkan +massage relatif lebih murah. Namun, kerap kali saya tidak puas dengan hasilnya karena kurang bersih. Oleh sebab itu, jika ingin relax di salon terutama supaya bagian wajah biar tetep bisa keep smiling saya lebih memilih totok wajah saja :)

Kembali lagi dengan treatment facial di LBC, langkah-langkah apa sih yang biasa dilakukan ketika melakukan perawatan ini?
Pertama kita mendaftarkan diri ke petugas dengan menunjukkan member card kemudian duduk manis menunggu nama kita dipanggil dokter.
Dokter akan menanyakan jenis perawatan yang akan kita lakukan dan melihat kulit muka kita cocoknya menggunakan obat jenis apa.
Setelah itu duduk manis lagi menunggu nama kita dipanggil sang therapis. Rasanya lega mendengar nama saya tidak lama kemudian dipanggil dan masuklah saya ke ruang perawatan.
Perlahan krim dingin mulai menyentuh muka, tangan halus therapis melakukan pijatan-pijatan ringan dan membersihkan muka kita. yeah!
Selanjutnya adalah saat paling menyenangkan dalam sejarah facial, ketika muka, leher, dan punggung kita di massage sambil mendengarkan musik yang menenangkan jiwa dan kerapkali saya tertidur pada aktivitas satu ini ;)
Setelah kegiatan “menyenangkan” itu, selanjutnya mata kita akan ditutup dan si dokter akan mengusapkan sand paper untuk membuka pori-pori (pengganti uap panas), and after that? penderitaan dimulai!
Dimulai dari komedo dihidung hingga seluruh muka pun tak luput dari keahlian si therapis mengeluarkan lemak di wajah. sakit dan terkadang air mata menetes dengan sendirinya :(
Setelah segala penyiksaan itu selanjutnya akan diberi ozon untuk mensterilkan muka dan kemudian diberikan masker. Selanjutnya adalah saat istirahat :) Setelah tidur sekitar 10 hingga 15 menit, si masker diangkat, muka kita dibersihkan lagi dan diberi cream and then.. Done!

Eh ada yang kelupaan, belum bayar ternyata. hihihi.. Hmm.. biaya facial Rp. 55.000, masker Rp. xx.0000, sand paper Rp. xx.000, dll.. Total yang harus dibayar Rp. 129.000 dan saya juga memberikan sedikit uang tips untuk terapisnya. Jadi ya kira-kira untuk facial biasa tidak perlu menghabiskan uang > Rp. 150.000
Sebenernya untuk tips terapis sifatnya tentatif, tapi kalau saya sekedar ucapan terima kasih karena dia sudah “ngurusi” muka saya. Lha wong saya saja cuci muka sendiri males tapi justru orang lain merawat muka saya :( Oh ya, ditempat ini para pria juga bisa mendapatkan perawatan lho.. ada ruang khusus untuk perawatan bagi kaum adam ini. Sepertinya therapisnya juga wanita karena saya belum pernah melihat pria berseragam sliweran disitu *kecuali security..

Untuk mengantisipasi timbulnya biaya lain-lain, saya selalu menggunakan facial standard gak yang neko-neko (+vitamin atau apalah) dan tidak menggunakan produk tempat ini karena menurut saya tidak perlu terlalu berlebihan merawat diri :) *fyi saya wanita malas..

Menurut saya, seorang wanita cukup merawat diri dengan menjaga kebersihan badan dan selalu wangi. Bahkan, masih menurut saya, make-up pun sepertinya tidak perlu. (semoga “calon pendamping” saya di masa depan sependapat). Hahaha..

days in my life..

Aneh.. untuk menulis kata pertama saja aku membutuhkan waktu sangat lama dan lebih dari sepuluh kali menghapus.
Padahal biasanya, aku bisa memainkan jemariku diatas keyboard tanpa berpikir panjang..

Mencoba menyatukan rangkaian pikiran dalam tulisan, dengan harapan suatu saat dapat membacanya kembali dan setidaknya kembali tersenyum saat membacanya :) *seperti saat ini ketika sedang menulisnya..

Diam kuterpaku di meja kerjaku, melihat satu persatu sebagian besar rekan kerja sudah pulang. Begitulah suasana ditempat kerjaku yang baru, kami terbiasa pulang tenggo jam 4 sore. Istirahat siangpun relatif lebih lama dibandingkan kantor pada umumnya. Menyenangkan ya :) Begitulah aku mencoba menghibur diriku dalam kehampaan luar biasa kali ini.
Seperti jiwa ini kehilangan rasa.. Berbagai cara aku lakukan tapi kembali lagi dengan statement-ku diawal, aku tetap merasa aneh. Ya aneh.. karena aku merasa sendirian sementara begitu banyak orang mengelilingku. Bukan hanya mengelilingi semata tetapi mereka sembari membagikan keceriaan, kehangatan, kebahagiaan, dan memberikan “rasa” dihidupku.

Kembali lagi.. meskipun “bumbu” itu sudah dibubuhkan namun masih terasa hambar. Perasaan ini berlangsung untuk waktu yang relatif lama, oleh sebab itu, sore ini aku memutuskan untuk menuangkannya dalam satu tulisan. Berharap kamu, insan lain yang sedang tak sengaja mampir, membaca tulisan ini dan mengatakan bahwa kamu pun pernah mengalami perasaan serupa. Hal itu sangat penting untukku, supaya aku yakin bahwa aku masih belum gila. *setidaknya untuk saat ini.. ;)

The story begins.
Kucoba merefleksikan kembali apa yang memicu “matinya perasaan” ini.
Berawal dari sebulan yang lalu, saat aku belum masuk kerja. Aku banyak melewatkan waktu sia-sia, lewat begitu saja. Menghabiskan waktu di dalam rumah, tanpa beraktivitas berarti. Hanya nonton tv, makan, dan tidur. Tidak ada lagi quality time karena quantity time yang ada. Kehidupan membosankan itu berlangsung hingga berminggu-minggu.
Dalam kebosanan itu, aku memutuskan untuk refreshing sejenak. Pulang ke kampung halaman. “Timing yang tepat!”, kataku dalam hati. Akupun menghabiskan kebosanan selanjutnya ditempat itu.. melihat debu memenuhi sudut rumah karena rumah sedang direnovasi, mendengar suara berisik dari mesin pemotong keramik, rumah yang semakin lama kehilangan kehangatan karena kami (anak di rumah) sudah merantau. Itulah siklus hidup, pikirku saat itu.

Disuatu waktu, kita bisa saja memiliki semua yang kita inginkan. Keluarga yang bahagia, kebutuhan hidup yang terpenuhi, mimpi yang menjadi kenyataan, dan roda kehidupan yang sedang berputar diatas.
Namun disuatu waktu ketika satu persatu semuanya menghilang, tersisalah kita berjuang sendirian. Pertanyaan selanjutnya yang terlintas dibenakku adalah: “what r u looking for?” or “who r u looking for?”,

Belakangan ini, semua yang aku alami hanya untuk mengisi hari-hari saja.  Aktivitas bangun subuh, menyiapkan kebutuhan cafe dan sarapan pagi, berangkat kerja, menjalani hari-hari duduk di kursi panas, pulang sore hari, melirik tv sebentar, merekap hasil penjualan harian cafe, menyiapkan makanan utk menu sarapan, dan tidur. Waktu tidur malam tidak pernah lebih dari 5 jam. Hari sabtu dihabiskan untuk belanja dan hari minggu untuk beres-beres rumah.
Singkat sekali jika diceritakan aktivitas rutin yang itu-itu saja dilakukan, tapi disela-sela itulah aneka rasa coba dibubuhkan. Sayang semuanya masih hambar :(

Menaiki si biru bildig (baca: motor) kerapkali aku menghadapi pikiran kosong, ngobrol bersama seseorang dan tiba-tiba tidak konsen, berkumpul bersama keluarga dan biasa saja. Bahkan seminggu yang lalu di hari wisuda, ketika namaku dipanggil diserukanlah mahasiswa yang lulus dengan predikat cum laude! Sedikit yang menghiburku adalah aku bisa memberikan sedikit kebahagiaan kepada orang tua, setidaknya menunjukkan bahwa aku kuliah sungguh-sungguh *meskipun banyak mainnya juga..
Ah, ternyata itu tidak mengubah apa-apa. Perasaan ini tetap hampa. Seperti aku kehilangan arah, tidak tahu apa yang aku cari, tidak tahu jawaban dari pertanyaan tadi.

Damn! Akupun sadar, ternyata kalimat2 yang terngiang itulah yang membuat aku belakangan ini merasa hampa. Seperti usaha yang dilakukan, perjuangan hidup yang coba dilakukan tampak sia-sia, karena aku tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Aku sendiri tidak tahu apa yang aku cari dan aku sendiri tidak tahu orang seperti apa yang aku cari (untuk menjadi pasangan jiwaku)..
Hari-hari ini aku sedang mencoba menyembuhkan diri sendiri, mencoba “menerapi” dengan mencoba meraih kebahagiaan melalui arah yang lain. Dan rasanya memang tidak perlu mencari jawaban atas pertanyaan retoris seperti itu. hehehe..

Mungkin aku sudah cukup lama menjauh dariNya, jarang melibatkanNya dalam perjalanan hidup harian. Ke gereja hari Minggu hanya sebagai formalitas saja (kebetulan saya kristiani) dan berdoa hanya karena kebiasaan. Tapi perlahan aku tersadar, bahwa dibalik kesetiaan yang ditaburkan terhadap rutinitas harian, maka pemberian diri yang utuh didalamnya layak diikuti dengan kebahagiaan. Berharap perlahan rasa hampa ini pun menjauh dariku.. :)

Sayang sekali sikapku yang berubah akhir-akhir ini memicu timbulnya masalah lain. Seandainya semua orang bisa memahami apa yang aku rasakan mungkin tidak akan terjadi salah paham ini atau mungkin postingan ini yang agak terlambat? hahaha.. entahlah :)
Mulut orang malas tidak pernah malas membuat alasan sementara manusia pada dasarnya adalah malas. Oleh sebab itu, manusia selalu membuat alasan untuk menutupi kemalasannya.. :p
Ini aku, aku masih yang dulu. Aku hanya butuh untuk diyakinkan dan dicintai. Sedih mendengarnya, ketika seseorang yang kamu harapkan mampu menjadi sandaran tetapi malah membutuhkanmu untuk bersandar. Lupakah dia bahwa seorang wanita juga lemah?
Luka itu masih merah dan mengapa dia ingin menaburi garam diatasnya.. Libatkan aku dan Dia dalam keputusan ini..

*ketika membaca ulang tulisan ini aku tidak paham alinea terakhir yang kutulis. I think, I need an editor.. hahaha.. :D

Ibuku pembohong..

Dalam hidup, aku selalu membenci kebohongan karena hal ini membuat manusia terpuruk dalam penderitaan.. tapi sedikit kisah mengenai kebohongan yang akan aku ceritakan malah membuat kita terbebas dari penderitaan, bak seekor kupu-kupu menghisap putik bunga sehingga membuatnya berbunga indah..

Aku terlahir sebagai seorang anak kedua dari tiga bersaudara, aku anak perempuan satu-satunya. Aku terlahir di sebuah keluarga sederhana, dipedalaman Sumatera Selatan. Ayahku seorang guru sekolah swasta dan ibuku seorang bidan di rumah sakit swasta.. Setiap kali makan aku selalu melihat jumlah lauk yang disediakan dimeja makan selalu pas untuk ber-5 dan ketika saat makan tiba, ibuku sering sekali memberikan jatah lauknya untukku atau kedua saudaraku yang lain, Ibuku berkata : “Ambilah nak, ibu tidak suka lauk ini”

Ketika aku masuk SMP, demi membantu ayahku membiayai sekolah masku di kota dan adekku yang masih SD, ibuku sering sekali mengambil jatah mengantar pasien rujukan ke RS di kota (Palembang) karena peralatan di RS dimana aku tinggal masih sangat sederhana.. Sehingga ibuku sering sekali kurang istirahat, ibuku pulang kembali ke rumah dini hari dan ketika mentari mulai merona dia sudah harus berangkat dinas lagi.. Malam harinya sepulang dinas, ibu masih menunggui aku dan adikku belajar, aku melihat ibuku kadang tertidur di kursi dan bangun lagi. Aku berkata : “Ibu, tidurlah di kamar.. ibu khan capek semalam habis ngantar pasien jadi belum tidur”. Ibu tersenyum dan berkata : “Cepat selesaikan saja belajarnya, ibu belum capek dan tidak ngantuk nak”

Ketika aku mau masuk SMA, ibuku menyuruhku sekolah ke Jogjakarta karena dia tahu tempat dimana aku lahir dan besar tidak memberikan banyak kesempatan untukku berkembang. Padahal saat itu bersamaan dengan saat masku masuk kuliah dan adekku masuk SMP. Aku tahu dengan keadaan kami yang sederhana, akan sangat berat untuk membiayai kebutuhan kami. Aku berkata pada ibuku : “Ibu, biaya sekolah disana mahal.. sebaiknya aku sekolah dikampung ini saja”. Ibuku hanya menggeleng dan berkata : “Tidak nak, ibu punya cukup tabungan untuk menyekolahkanmu dan 2 saudaramu di sekolahan yang lebih bagus..”

Ketika sedang kuliah, keadaan ekonomi orang tuaku memburuk dan untuk makan mereka dirumah saja susah apalagi mengirimi uang bulanan kami anak-anaknya yang semua tinggal diluar kota. Untuk menutupi pengeluaranku aku bekerja paruh waktu di warnet dan memberikan les pelajaran sekolah private ke rumah-rumah.. Aku tau akan sangat berat bahkan mustahil bagi orang tuaku membiayai kami anaknya.. Aku berkata pada ibuku : “Ibu, tidak usah dipikirkan mengenai uang untuk makanku karena aku sudah punya uang dari kerja paruh waktu”. Ibuku berkata : “Anakku, Ibu masih punya uang.. Ibu tetap akan mengirimimu uang tiap bulan” dengan suara terisak dia berkata : “tapi maaf jumlahnya sedikit berkurang”.

Ketika aku lulus kuliah S1, aku langsung bekerja di Jakarta.. beruntung aku mendapatkan kerja dengan cepat sebelum diwisuda. Sewaktu wisudaku ayah ibuku datang ke Jogjakarta.. dan tepat sehari sebelum acara wisuda aku kecelakaan kecil jatuh dari motor. Ibuku begitu mengkhawatirkan keadaanku, aku sempat melihat matanya berkaca ketika aku pulang dengan kaki pincang. Dia merawat dan memandikanku, ibuku mengkramasi rambutku.. air mataku mengalir bersamaan dengan guyuran air ketika dia memandikanku.. Aku melihat tangan itu ketika memandikanku, tangan itu sudah mulai keriput dan dengan jelas terlihat otot-ototnya, tangan itu.. tangan yang penuh kasih pernah menyuapiku, menggendongku, memandikan, memakaikan baju, membelai dan memelukku, kedua tangan yang selalu dia pakai ketika berdoa untukku.. sekarang tangan itu telah menyentuh hatiku dengan cara yang paling membekas di hatiku.. Sembari memandikanku, aku dan ibu bercengkrama.. aku berkata pada ibu : “Ibu, nanti kalau liburan Ibu maen ke Jakarta yach.. Kita belanja baju-baju cantik buat Ibu”. Aku tau ibuku tidak punya waktu untuk bersenang-senang ataupun punya baju-baju bagus untuk dipakai diacara resmi. Tetapi ibuku yang memiliki cinta tulus tidak mau merepoti anaknya dan dia berkata : “Ibu senang tinggal dirumah, Ibu tidak suka Jakarta terlalu rame. Gajimu ditabung saja buat keperluanmu di masa depan”.

Beberapa waktu lalu aku mendapatkan beasiswa melanjutkan kuliah lagi S2.. dan aku harus resign kerja karena beasiswa yang aku terima plus living cost. Tetapi awalnya aku memutuskan untuk melepaskan beasiswa ini karena living costnya tidak sebanding dengan gajiku padahal aku masih perlu membantu orangtuaku membiayai adekku hingga selesai kuliah. Aku berkata pada Ibuku tercinta : “Ibu, aku berhasil dapat beasiswanya.. terimakasih doanya. Tapi aku memutuskan untuk melepaskan beasiswa ini karena aku harus resign kerja kalau ambil beasiswa ini”. Tanpa aku jelaskan, Ibuku tahu kenapa aku memutuskan melepaskan beasiswa yang telah aku dapat dan dengan suara terisak dia berkata : “Anakku, masa depanmu masih panjang.. Kamu harus memikirkan hidupmu sendiri, pendidikan itu penting, kamu tidak perlu memikirkan biaya adikmu.. tidak usah pikirkan orang tuamu, adekmu tanggungjawab kami orangtuamu. Ibu masih sanggup membiayai semua anak Ibu, kamu harus ambil beasiswa itu karena itu hadiah dari Tuhan dan hadiah dari kami untuk ulang tahunmu taun ini”.

Aku menitikkan air mata mendengar kata-kata Ibuku.. pikiranku kembali ke masa kecilku ketika ia selalu berbohong untuk menutupi semua kesulitan dan penderitaannya supaya kami anak-anaknya tetap bahagia dan merasa berkecukupan. Dari kecil aku sering melihat Ibuku menangis dan sampai saat inipun kami selalu bilang ibu cengeng karena sering menangis, tetapi sekarang aku sadar bahwa memang begitulah seorang wanita diciptakan oleh Tuhan karena ia diharuskan untuk menjadi orang yang istimewa seperti Ibu dihatiku.

Tuhan berkata : “Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia, namun harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan.. Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya.. Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh.. Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya.. Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya.. Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu.. Dan akhirnya, aku memberinya air mata untuk diteteskan. Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan”

Tanpa gaun mewah, tanpa perhiasan gemerlap aku melihat Ibuku tetap wanita yang cantik. Terlihat pintu hati dan cinta di matanya yang sudah mulai rabun.. Ibu Tina, Ibuku tersayang, aku merindukanmu. Selamat hari Ibu 22 December 2008.. Terima kasih atas doamu untuk kami anak-anakmu, terima kasih atas perjuangan dan pengorbananmu. Semoga Ibu selalu sehat dan bahagia bersama ayah di rumah.. :)

I love you mom,
denokmu

Krisis Energi!

alanOtak brilian, pikiran yang cerdas, analisa yang matang, berpikir jauh kedepan. Begitulah Alan Greenspan. Seorang ekonom yang lahir pada tahun 1926 dan besar di New York City. Memiliki istri cantik Andrea seorang koresponden utama NBC urusan luar negeri di Washington, kehidupan perkawinan yang harmonis dan bahagia meski tanpa buah hati. Dia pernah belajar memainkan klarinet dan bekerja sebagai musisi professional. Ia pun meraih gelar B.A., M.A., dan Ph.D bidang ekonomi dari New York University. Ia turut mendirikan firma konsultasi ekonomi Towsend-Greenspan & Co di tahun 1954. Dari tahun 1974-1977 ia menjabat sebagai ketua Dewan Penasihat Ekonomi dibawah Presiden Gerald Ford. Selanjutnya ia menjabat sebagai Ketua Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika dari tahun 1987 sampai pensiun di tahun 2006. Abad Prahara sebuah buku yang mengulas sepak terjang sang maestro ini dalam memandu ekonomi AS.

Banyak sekali pemikiran beliau, sungguh sangat brilian. Setiap satu kejadian akan dihubungkan secara global dengan semua aspek dan analisanya mengenai perekonomian memang sangat luar biasa. Saya adalah orang awam dan bukan orang yang berkecimpung di dunia ekonomi secara langsung, sehingga butuh waktu yang sangat lama untuk memahami setiap statement ataupun fakta-fakta dibalik permasalahan ekonomi yang timbul.

Ayn Rand, guru tahun pertama Alan adalah salah satu orang yang paling mempengaruhi kehidupannya, ia telah mempeluar cakrawala Alan dan menantangnya untuk merambah ke luar ekonomi guna memahami perilaku individu dalam masyarakat. Ia penganut ajaran etika Aristoteles yakni bahwa individu memiliki kemuliaan yang dibawa sejak lahir dan bahwa tugas tertinggi setiap individu adalah bertumbuh dengan menyadari potensi itu.

Diantara banyak kasus permasalahan ekonomi dan ramalan kehancuran ekonomi dunia, salah satu pemikiran yang menarik bagi saya adalah masalah krisis energi jangka panjang.

Saat ini konsumsi minyak bumi telah meningkat pada kecepatan tahunan rata-rata yang cukup mengejutkan. Teknologi memberikan keuntungan masa depan yang besar melalui konversi gas alam menjadi bahan bakar transportasi cair. Tapi untuk sekarang, kemajuan cepat dari teknologi itu tertunda akibat kenaikan tajam biaya konstruksi semua proyek energi, dan akibat kesulitan dalam meningkatkan pabrik percobaan ke ukuran industri.

Di masa depan yang lebih jauh, mungkin satu atau lebih generasi lagi, terdapat potensi untuk mengembangkan kapasitas produksi dari hidrat gas alam. Kekurangan jangka panjang minyak dan gas tak pelak lagi telah memicu minat baru dalam ekspansi batu bara, tenaga nuklir, dan sumber energi terbarui. Yang paling terkemuka adalah pembangkit listrik tenanga air dari bendungan dan energi yang dihasilkan melalui daur ulang limbah dan produk sampingan dari industri dan pertanian. Tenaga matahari dan angin telah terbukti ekonomis untuk penggunaan skala kecil dan tertentu, tapi secara keseluruhan hanya mencakup sebagian kecil penggunaan energi.

Amerika Serikat negara yang memiliki cadangan besar batu bara, terutama untuk pembangkit tenaga listrik. Tapi, pembakaran batu bara di pembangkit-pembangkit listrik telah dibatasi oleh keprihatinan tentang pemanasan global dan kerusakan lingkungan hidup lainnya. Teknologi telah mengurangi sebagian keprihatinan itu, dan mengingat terbatasnya alternative, batu bara kemungkinan besar akan tetap menjadi cadangan utama masa depan energi AS.

Energi nuklir merupakan alternative yang menonjol dari batu bara dalam pembangkit tenaga listrik. Meskipun harga rendah untuk bahan bakar yang bersaing dan keprihatinan tentang keselamatan telah membatasi industri nuklir selama bertahun-tahun, pabrik-pabrik nuklir tidak mengeluarkan gas rumah kaca. Mengingat langkah-langkah yang telah diambil selama bertahun-tahun untuk membuat energi nuklir lebih aman dan keuntungan lingkungan hidup nyata yang ditawarkannya dalam mengurangi emisi CO2, tidak ada lagi tentangan terhadap peningkatan penggunaan nuklir sebagai pengganti batubara.

Tantangan utamanya adalah menemukan cara untuk menyimpan limbah bahan bakar dan radioaktif yang telah digunakan. Tenaga nuklir memicu ketakutan yang melampaui perhitungan rasional mana pun. Tenaga nuklir merupakan sarana utama untuk memerangi pemanasan global. Penggunaannya harus dihindari hanya jika hal itu mengandung ancaman terhadap harapan hidup yang mengalahkan keuntungan yg bisa diberikan kepada kita.

Semua orang tahu bahwa pemanasan global memang nyata dan diakibatkan oleh ulah manusia. Alan sebagai seorang ekonom tampaknya meragukan bahwa kesepakatan internasional yang menetapkan apa yg disebut sistem cap and trade global terhadap emisi CO2 akan berhasil. Hampir semua ekonom mendukung aspek perdagangan itu. Membayar ijin untuk melakukan pencemaran akan menghapuskan banyak emisi co2 yg dikaitkan dengan kegiatan ekonomi bernilai tambah rendah. Tapi elemen terpenting dari cap and trade ini adalah batas keseluruhan yg diberikan kepada suatu Negara. Pada prinsipnya, suatu Negara bisa menetapkan batas jumlah emisi CO2, Negara itu bisa melelang atau membagi-bagikan ‘izin’ menambahkan batas yang sudah ditentukan itu. Perusahaan-perusahaan yg mengeluarkan CO2 kurang dari kuotanya bisa menjual izin yg tidak digunakannya di pasar terbuka. Perusahaan yg harus melakukan kegiatan yg mengeluarkan emisi CO2 hingga melanggar kuotanya bisa membeli izin tambahan yg dibutuhkan di pasar itu.

Tidak ada cara efektif untuk betul-betul mengurangi emisi tanpa memberikan pengaruh negative pada sebagian besar ekonomi. Intinya, itu adalah pajak. Jika batasnya cukup rendah sehingga mengurangi emisi CO2, izin akan menjadi mahal dan sejumlah besar perusahaan akan menghadapi peningkatan biaya yang menurunkan daya saing mereka. Pekerjaan akan hilang dan pendapatan riil pekerja berkurang.

Membuang co2 ke atmosfer merupakan pelanggaran terhadap hak property seperti halnya membuang sampah ke halaman tetangga. Tapi, melindungi hak seperti itu dan memperkirakan kerugian akibat pelanggarannya sangat sulit karena memantau kerugian itu mustahil dilakukan.

Idealnya, tentu saja emisi karbon harus dipisahkan dari produksi. Memaksakan pemisahan yang dilakukan oleh cap jarang menghasilkan alokasi optimal sumber daya sebagaimana yg telah ditunjukkan dengan jelas oleh pengalaman dunia dengan perencanaan pusat. Pemaksaan pengurangan produksi pasti akan menimbulkan reaksi politik untuk menghalangi ekspor. Pajak karbon mungkin tidak merusak pekerjaan jika hal itu diseragamkan di seluruh dunia. Kecuali ditemukan teknologi untuk memisahkan emisi dari produksi, emisi hanya bisa ditekan lewat penurunan produksi dan angka tenaga kerja. Jika teknologi seperti itu memang berhasil ditemukan, emisi akan turun tanpa sistem cap and trade.

Berapa tahun lagi minyak akan bertahan? Pasokan akan menyusut lama sebelum akhir abad ini, kata sebagian besar pakar sekarang. Tentu saja, para pakar telah meramalkan kenaikan dan penurunan produksi minyak bumi tidak lama setelah colonel Drake menemukan minyak pada tahun 1859 di Titusville, Pennsylvania. Banyak orang pun tahu bahwa minyak akhirnya akan habis. Cadangannya terbatas, begitu pula jumlahnya.

Tapi, lama sebelum perkiraan tentang habisnya cadangan minyak itu menjadi kenyataan, kekuatan pasar dan tekanan harga yg diakibatkannya kemungkinan besar akan menggantikan banyak dari pengunaan minyak bumi. Jika sejarah bisa menjadi panduan, minyak akan diganti oleh alternative yang lebih murah lama sebelum cadangan minyak konvensional mengering. Sesungguhnya, minyak menggantikan batu bara meski cadangan batu bara yg belum diambil jg masih banyak, dan batu bara ini menggantikan kayu sebelum hutan-hutan kita menjadi gundul.

Untuk meraih tujuan pembatasan pemanasan global, angka pertumbuhan konsumsi minyak bumi dunia harus datar. Pada akhirnya mungkin saja kita juga akan membiarkan pasar memandu pilihan kita dalam mengurangi konsumsi minyak bumi. Ada salah satu cara untuk mengendalikan konsumsi adalah pajak bensin sebesar katakanlah 3 dollar per gallon. Tapi Alan meragukan apakah pajak sebagai cara alternative untuk meraih apa yg bisa dilakukan oleh pasar kompetitif. Meskipun pasar minyak sangat kompetitif dinegara berkembang, pendekatan pasar itu jelas lemah dalam suatu dunia dimana satu tindakan terorisme bisa menghentikan sejumlah besar produksi minyak dan melumpuhkan ekonomi global.

Negara maju seperti AS membutuhkan harga bensin yg jauh lebih tinggi untuk melepaskan diri dari kendaraan bermotor berbahan bakar bensin. Minyak bumi begitu menyatu dengan dunia ekonomi dewasa ini, sampai-sampai penghentian pasokan secara tiba-tiba bisa mengganggu ekonomi berbagai Negara. Perkembangan ekonomi global memakan sejumlah besar energi.

Perhatian besar negara-negara maju pada urusan politik timur tengah selalu dikritik dan dikaitkan dengan keamanan minyak. Reaksi terhadap nasionalisasi Mossadeq atas minyak Inggris – Iran pada tahun 1951 dan upaya gagal Inggris dan Prancis untuk membatalkan pengambilalihan Nasser atas jalur penting terusan Suez untuk aliran minyak ke Eropa tahun 1956 merupakan dua contoh sejarah yg menonjol.

Dan apapun kekhawatiran mereka di surat kabar tentang ‘senjata pemusnah massal’ milik Saddam Hussein, pemerintah Amerika dan Inggris juga memikirkan kekerasan di daerah yg menyimpan sumber daya yg sangat penting bagi berfungsinya ekonomi dunia itu.

Sangat sedih rasanya karena tidak nyaman rasanya secara politik untuk mengakui apa yg sudah diketahui semua orang bahwa : perang Irak sebagian besar soal minyak. Dengan demikian, perkiraan-perkiraan tentang penawaran dan permintaan minyak dunia yg tidak memerhatikan lingkungan yg sangat tidak menentu di Timur Tengah menghindari suatu kekuataan besar yg bisa menghentikan pertumbuhan ekonomi dunia.

Masa depan Timur Tengah merupakan pertimbangan terpenting dalam ramalan energi jangka panjang mana pun. Meskipun intensitas penggunaan minyak telah berkurang secara mencolok, peran minyak masih sedemikian rupa sehingga krisis minyak mengakibatkan kerusakan parah pada ekonomi dunia..

So? Masihkan kita sebagai individu yang memberi kontribusi pada dampak global warming berminat mengkonsumsi minyak berlebihan? Ada baiknya kita mulai dengan hal sederhana dengan menggunakan kendaraan umum atau pun sepeda, ataupun jalan kaki karena disamping menyehatkan sedikit banyak juga mengurangi emisi karbon :)

Jejak Langkah Seorang Pelari

VENI kembali membongkar tumpukan kardus di kamarnya. Kardus-kardus yang berisi catatan, salinan slide-slide presentasi dosen, textbook, kertas-kertas, dan semua hal yang dahulu digunakan ketika dia kuliah. Kini, setelah hampir sebulan, ia kembali membongkar itu untuk mengklasifikasikannya. Menyimpan yang sekiranya penting atau membuang yang mampu lekang dalam ingatan supaya rengat dan kecoa tak lagi nyaman bersarang di sudut kamar tak berpenghuni itu.

Terdapat di dalam sebuah kardus mungil, sebuah buku kecil berwarna orange. Buku dimana sebagian part kisah hidup dalam suatu masa tertuang disana, dalam penggalan emosi tanpa alur.. Buku kecil yang telah menemaninya selama dua bulan ketika dirinya berada di Borneo, saat terisolasi dalam kehidupan tanpa glamor dan dusta. Hidup bebas dalam kesendirian, penuh keinsafan, hati jernih, dan tanpa intervensi dari manapun..

Sesaat, ia seolah merasa dihadapkan pada pilihan. Meletakkan buku itu ke dalam tumpukan kardus yang harus dibuang atau malah menyimpannya. Ditengah kebimbangan, ia memutuskan untuk ‘menilai’ isi dari buku tersebut. Meski ingin rasanya menutup saja kilasan sejarah dan sketsa hidup yang telah dibuatnya. Ia kembali membuka lembar-lembar yang telah ia tulis disana. Kenangan akan keputusan besar dalam hidupnya itu pun kembali lagi. Harap tiada tuntutan, tiada yang terluka..

Tertulis tipis dengan tinta biru..
“Ndut, it’s a promise made in the heart.. silent… unbreakable by distance and unchanged by time.. I miss u.. and love u always!”

Tak setipis goresan tinta yang dibuatnya tanggal 13 Februari, malam sebelum perayaan hari kasih sayang, tulisan singkat itu membunuh sanubarinya dengan jelingan tajam bak sembilu. Air mata pun membeku di sudut matanya..

Spontan dia membalik semua part hidup di masa lalunya. Sreg.. sreg.. halaman lain pun terbuka. Tak kuasa meninggalkan kenangan yang ingin dilupakan. Sungguh ironis, sebulan berselang dari tulisan itu, tertera disebuah halaman penuh sayatan kesadaran tanpa asa.

“Aku berusaha mengingat semua kenangan indah yang kami lewati bersama.. aku masih merasakan arti dia dihidupku.. aku terkenang ketika awal kami bertemu.. aku terkenang bagaimana setelah sekian lama kami bisa menembus awan gelap bersama. Aku berusaha keras mengingat ketika aku pertama kali jatuh hati kepadanya, tapi ternyata itu semua tak berbekas untukku karena dahulu aku memang tidak merasakan love at the first sight tapi aku jatuh hati karena terbiasa bersamanya, terbiasa menggantungkan diriku pada lelaki kuat dan hebat. Mengapa ini semua hilang, rasa ini mati seperti dahulu memang tak pernah ada nafas dan jiwa didalamnya.. Kenyataan ini bukan membuatku semakin mengasihinya tetapi malah justru membuatku ingin lari dari situasi ini hanya karena aku tak bisa menerima pilihan sikapnya..”.

Penggalan kisah lain yang tertera pada halaman berikutnya:
“Ya iyalah mbak, saya melihat sesuatu yang aneh disini.. Maaf lho kalau saya bilang blak-blakan. Tapi mbak ini ngga sungguh-sungguh cinta sama pacarnya deh klo gitu..”. Itulah kutipan sebuah kalimat yang dilontarkan oleh seorang bapak pakar cinta ketika berusaha mendiagnosis kisah cintanya.
“Kalau cinta ya mbak itu pasti inginnya selalu dekat bukan malah jauh-jauhan gitu, harusnya kalian itu memikirkan tentang pernikahan khan sudah pacaran sekian lama, dan bla bla bla..”, Ia lantas kembali mengingat semua kejadian ketika dia berbincang dengan bapak itu.
“Apa kabar ya Pak Nimin skg?”, ungkapnya dalam hati, sesaat sebelum menghela nafas panjang sambil tersenyum kecil menertawakan kenangan itu. Air mata beku itu menetes, mengharu biru suasana hatinya.

RENDRA. Pesawat landing dengan sempurna di Bandara Internasional Soekarno-Hatta saat mentari baru saja menampakkan senyum terbaiknya pagi itu. Keteguhan hati, pengorbanan, cinta dan kasih sayang selalu Rendra berikan untuk wanita yang dia kasihi. Pagi itu ia memutuskan untuk datang ke kota dimana wanita yang sangat ia kasihi berada. Wanita yang telah beberapa minggu belakangan membuatnya tidak bisa tidur nyenyak, tidak memiliki nafsu makan, membuat hari-harinya tanpa semangat dan hidup seakan tanpa ujung.. tanpa tujuan. Sejam kemudian sampailah dia di rumah dimana sang pujaan hati berada. Sekian waktu menanti, tidak ada seorang pun yang mempersilakannya masuk. Entah karena semua penghuni rumah sudah beraktivitas dari pagi atau malah karena belum pada bangun.
”Tapi.. Ini khan weekend?” umpatnya dalam hati.

Berharap kedatangannya tak sia-sia, ia terus menanti. Diraihnya koran pagi yang masih tergeletak di teras rumah itu, yang hanya berjarak beberapa centi dari tempat dia duduk. Pandangannya berhenti pada headline koran itu, sebab pikiran kosong menyelimuti lamunan yang semakin liar disaat ia tengah mencoba bersahabat dengan kegiatan menunggu. Ya, menunggu, menunggu, dan menunggu untuk waktu yang tidak ditentukan. Seperti yang telah ia lakukan terhadap wanita ini. Ia telah rela menunggu hingga 5 tahun.. Bahkan dia pun rela ditinggal dan menjalani long distance relationship selama 2 tahun belakangan. Persimpangan penantian yang berbuah kesia-siaan.
Jika diingat kembali saat itu, saat ia mengijinkan orang yang dikasihi menggapai impian, semakin berkembang tanpa kekangan, tak ada lain yang ia rasakan selain keyakinan. Keyakinan bahwa tindakan itu yang terbaik bagi kekasih hatinya, harap segalanya tetap bertahan baik bagi hubungan mereka, sebab kepercayaan telah diletakkan dan masa depan dipertaruhkan. Keyakinan yang ternyata hanya tersemat dalam ketakutan terbesar dalam hidupnya.. bahwa ia akan ditinggalkan selamanya oleh kekasihnya, orang yang telah memberinya mimpi dan membuatnya terbang berjuang menggapai kebahagiaannya. Ia pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.
“Ketakutanku benar-benar akan terjadi.. ah, semoga ini hanya emosinya sesaat seperti yang lalu-lalu. Bukan akhir yang sesungguhnya”, ucapnya dalam hati mencoba menenangkan perasaannya saat itu.

“Loh, mas sudah dari tadi disini?” Suara yang telah lama akrab ditelinganya itu menyentak lamunan panjangnya.
“Lumayan” jawabnya singkat.
Selang beberapa waktu kemudian, mereka memutuskan untuk segera beranjak pergi. Menghabiskan waktu bersama, berbagi kisah, dan mencapai kepastian sikap. Setidaknya itulah harapan Rendra ketika datang mengunjungi Veni, wanita yang sangat ia kasihi.
“Aku rela menunggumu sampai kapanpun. Aku juga rela jika kamu ingin ‘mencoba’ berhubungan dengan orang lain sebelum menjatuhkan pilihan terakhirmu. Aku siap menerimamu kembali, kamu dengan kondisi yang memungkinkan, tapi tolong beri aku kesempatan lagi. Membuang seluruh hidupku begitu saja hanya untuk menunggu kesempatan yang belum tentu akan kudapatkan lagi? Aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus dipertahankan saat aku merasa semakin menjauh dari dirimu. Ini aku Ven, aku tidak tahu mengapa kamu memperlakukan aku seperti ini?”, ungkap Rendra dipenghujung titik nadir kesabarannya.
Dengan raut duka, Veni pun menjawab: “Maafkan aku mas, ini sudah menjadi pilihanku. Mas, aku tahu aku salah. Ini lebih jadi masalahku dan bukan masalahmu. Aku menginginkan yang terbaik buatmu juga. Memberimu kesempatan lain, sosok yang aku harap bisa jauh lebih baik dari aku..”, sambil memalingkan wajahnya pada steamboat yang telah terlular dingin hatinya, ia berusaha memberi pengertian.
Kata mendadak tajam bak pisau dan rasa telah menjadi pembelot, penghianat, dan pendusta terhadap komitmen. Porak poranda mimpi yang telah dibangun, jembatan yang coba dibangun diantara mereka rubuh karena tak kuat menopang derasnya arus.

Dihari yang sama, menjelang senja Rendra memutuskan untuk kembali ke kotanya. Kota dimana mereka berdua telah dipertemukan untuk pertama kalinya dan merajut cinta bersama. Tempat dimana kenangan kebersamaan mereka abadi ditiap ruas bangunan dan jalanan di kota itu. Kota yang sama ketika dia telah membantu Veni ‘lari’ dari seseorang dihidupnya saat itu, perlahan menghilang karena merasa tidak nyaman dengan perasaan dan situasi saat itu. Sejak saat itulah, Rendra berjanji dalam hati untuk melindungi wanita itu dan ia telah mempertaruhkan hidupnya dengan berbagai resiko menghadang.

Sore itu Veni menghantarnya hingga terminal, dimana bus yang akan membawanya ke bandara standby. Lalu mereka berdua menutup pertemuan hari itu dengan memilih diam. Meraih jemari masing-masing kemudian menggenggamnya. Kembali menikmati hening.

Lampu kamar mati. Kebiasaan yang sebelumnya tidak pernah dilakukan Veni. Tapi sudah beberapa malam ini dia sengaja mematikan lampu, karena tak ingin seorang pun melihatnya terisak. Terisak bukan karena kesedihan yang dialami karena sudah tidak bisa bersama orang yang mengasihinya. Tapi terisak karena dia harus menyakiti hati orang yang sangat mengasihinya.

“Aku menyayanginya tapi aku tidak bisa menemukan kehangatan itu, bahkan aku pun tidak bisa mengatakan kata Yes, I do. Jika cinta itu masih ada, kenapa rasanya hati ini begitu dingin. Kenapa aku tidak merasa bahwa dunia masih tersenyum untukku. Rasanya awan hitam selalu mengikuti kemana kami berada. Kenapa aku selalu melihat segala hal yang tidak aku suka darinya, sikapnya, karakternya? Kenapa aku selalu mengeluhkan tentang dia? Kenapa A? Kenapa B? Kenapa C? Kenapa?? Kenapa sulit sekali bagiku untuk merasakan dan menerima semua kasih sayangnya begitu saja dan membalasnya? Sementara ia, laki-laki baik yang dapat menerimaku apa adanya dan tidak pernah menuntut apapun dariku.”, pikiran Veni dipenuhi banyak pernyataan dan pertanyaan pembenaran.
“Ternyata cinta bukanlah persoalan bagaimana kita memberi, bagaimana kita berkorban, dan bagaimana kita menerima. Aku belajar bahwa cinta adalah bagaimana penerimaan diri kita terhadap pasangan.”, lirih hati Veni. Air matanya kembali menetes.

“Kenapa bukan dia orangnya? Rendra seseorang yang selalu bersamaku, selalu ada disaat aku membutuhkannya, menguatkan disaat-saat rapuh dalam hidupku. Bahkan dia selalu bisa menerimaku apa adanya, tanpa pernah mengeluhkan perlakuanku yang sering menyebalkan dan menyakiti hatinya. Apakah karena rentang usiaku yang sangat jauh dengannya? Aku belum genap berusia seperempat abad sehingga dia jauh lebih dewasa dariku? Aku selalu dilanda ketakutan-ketakutan dan penilaian yang tidak aku suka akan dirinya. Berulang kali stuck terhadap situasi yang membuat hidup menjadi tidak bersemangat. Seolah mentari sudah berhenti bersinar untukku. Pada akhirnya aku memutuskan untuk mendapatkan hidup yang baru. Aku hendak berlari lagi untuk kesekian kalinya, mungkin lari dari kenyataan, kenyataan bahwa aku jenuh terhadap hubungan ini. Entahlah, apapun itu, ini sudah terjadi. Aku sudah meletakkan pilihanku. Terlalu sering aku menyakiti hatinya selama kami berhubungan. Semoga ini menjadi yang terakhir, terakhir kali aku menyakiti hatinya. Bagaimana kondisi didepan, aku tidak akan pernah menyesal, karena inilah keputusan, inilah hidup, aku telah meletakkan jangkarku.”
Itulah penggalan rangkaian-rangkaian kata dalam hati Veni. Kata yang telah membentuk kalimat. Kalimat yang dihasilkan dari pikirannya, yang pada akhirnya semakin penuh sesak mengganjal hatinya. Pikiran Veni terus melayang, melayang dan membawanya ke alam mimpi yang dalam.

LINUS. Menikmati kesendiriannya sore itu dengan secangkir teh manis hangat. Teh dengan racikan khusus yang memiliki cita rasa sangat khas, dibuat dengan penuh cinta oleh sang pemilik angkringan yang berjarak beberapa meter dari rumahnya. Dadanya mendadak sesak, dia begitu merindukan wanita itu, yang tiba-tiba kembali datang dihidupnya setelah penantian panjangnya. Ingin sekali dia mendekap wanita itu dan berjanji dalam hati untuk tidak melepaskannya lagi. Tapi pikirannya masih bercampur memori duka yang tak bisa lekang, bagaimana wanita itu di suatu masa secara perlahan pernah ‘lari’ dan menghilang dari hidupnya.

Kembali menerawang, mengingat ketika wanita itu duduk dan bercengkrama bersamanya hingga larut ditempat itu. Kala itu bulan memantulkan sinar redup, terpaan angin malam terasa lembut, dan berlatarkan suasana kampung di tengah kota yang nyaman, mereka berdua tampak menikmati kebersamaan saat itu. Mereka duduk di jembatan itu. Yah, jembatan inspirasi mereka menyebutnya. Inspirasi untuk menciptakan karya bagi mereka yang bergelut dalam dunia estetika.

“Setelah sekian lama, aku sungguh tidak menyangka akan melihatmu disini. Jika saja aku dahulu tidak menghilang darimu. Tetapi mungkin memang ada alasan kenapa kita kembali dipertemukan sekarang.”, lirih suara Veni pada saat itu, seolah hanya berkata untuk dirinya sendiri.
“Jika saja dahulu aku berani untuk mengatakan perasaanku, belum tentu kamu akan merasakan apa yang kamu rasakan untukku sekarang. Bahkan kamu yang dulu pun belum tentu sama seperti yang sekarang. Kita berdua sama-sama berbeda di waktu dulu dan sekarang.”, ujar Linus mengenang perbincangan mereka kala itu.
“Lantas, untuk apa kita dipertemukan saat ini? Seperti suatu awalan tanpa akhir yang tak tahu akan menuju kemana.” lanjut Veni menimpali.
“Andai aku bisa tahu jawabannya, Ven. Aku hanya tahu bahwa apa yang sekarang kita alami akan membentuk diri kita masing-masing di depan nanti. Demikian juga kamu. Kita pasti akan menuju itu, meski entah menuju kemana.” Linus menjawab pertanyaan Veni.
Sedikit mengalihkan alur pembicaraan, saat itu Veni tiba-tiba berkata:
“Eh, lagian kalau saat itu kamu mengatakan perasaanmu, pasti aku akan menolak kamu karena saat itu aku sama sekali tidak memiliki rasa apa-apa sama kamu. Tapi Linus, kamu belum tahu aku sekarang sebenarnya seperti apa?”.
Sambil menatap dalam mata Veni, saat itu Linus pun berkata:
“Ven, aku siap menerima kamu lengkap dengan paket ini. Aku tidak berjanji, tapi aku akan berusaha semampuku, kamu telah membuat aku kembali memiliki harapan dan untuk itu aku akan terus berjuang untuk kita. Tapi aku harus tahu, bahwa kamu memang masih ada disana. Aku tahu bahwa yang kamu hadapi saat ini sangat berat tapi kamu harus kuat karena memang ini yang kamu inginkan dihidupmu bukan?”.
Veni hanya mampu mengangguk perlahan.

Kala itu hati Linus terus bertanya-tanya. Bagaimana bisa dia merasa nyaman dengan wanita ini. Bagaimana bisa dia mendengarkan semua lelah dan keresahan yang selalu dialami Veni.
“Meski pernah dekat 6 tahun yang lalu, tapi dia baru tahu aku dan keluargaku secara sungguh-sungguh beberapa minggu ini. Dia terlihat sangat nyaman disini. Dia bisa menerima kondisiku saat ini. Bahkan orang tuaku sangat menyayanginya. Cukupkah itu untuk menyimpulkan sesuatu?” hati Linus bertanya-tanya.

Dalam kesendiriannya sore itu, dia kembali membayangkan dirinya dalam kondisi selalu bahagia seperti saat itu, ketika dia mendapati wanita pujaan hatinya hadir mengambil bagian dari hidupnya. Wanita yang tiba-tiba memberi amunisi untuk kembali berperang dan selalu terjaga meski dirinya tak pernah terlelap. Kenyataannya saat ini, hatinya gelisah, gundah gulana berkecamuk dalam hatinya. Ketika dia mencoba fokus dalam hidup, seolah terpaan badai mengombang-ambingkan kapal yang dinaikinya hingga berbalik arah.

“Tapi kenapa Veni seperti ini, dia berubah begitu cepat. Mengapa dia seperti itu? Aku sudah naik kapal yang sama dengannya, akankah dia menabrakkan kapal ini ke batu karang? Atau membawa kami menuju pelabuhan terakhir? Sepertinya saat ini dia sedang berusaha untuk menenggelamkan kami. Mengapa sulit sekali baginya untuk berada dalam suatu proses. Inikah proses yang akan dia skip lagi? Akankah dia ‘lari’ lagi dari hidupku setelah beberapa waktu lalu dia juga ‘lari’ dari seseorang yang sangat mengasihinya? Akankah kehadirannya hanya fatamorgana.”. Berbagai pertanyaan ritoris bertubi-tubi memenuhi benak Linus sore itu.

“Kenapa aku dipenuhi ketakutan? Aku akan menjadi nahkoda kapal yang baik, aku akan menunjukkan arah yang tepat bagi kami sehingga kami tidak karam dan bisa sampai ke pelabuhan. Jika ternyata tujuan terakhirnya bukan pelabuhan yang sama, maka aku akan membiarkan dia menahkodai kapal besar ini dan aku akan menggunakan lifeboat tanpanya mencapai tujuanku. Jika begitu kenyataannya, maka memang begitulah yang seharusnya terjadi.”, kembali lagi Linus mencoba menenangkan hatinya saat itu. Tak kuasa matanya mulai berkaca-kaca dan teh yang diminumnya berubah menjadi tawar dan dingin.

Veni mengusap matanya. Tak terasa air mata perlahan mengalir dari kedua matanya. Emosi yang tertahan selama beberapa waktu karena banyaknya kejadian yang telah dialami meledak. Linus telah hadir dalam hidupnya ketika ia telah memutuskan untuk mengambil arah yang berbeda dengan Rendra. Dan dia sadar betul, bahwa ia merasa begitu nyaman bersama lelaki yang kehadirannya sempat dia pungkiri beberapa tahun yang lalu. Jantungnya berdetak keras. Buku orange itu digengam semakin keras dan ia pun memutuskan untuk menyimpannya. Menyimpan pembelajaran berharga, meski tanpa adanya buku itu ia akan tetap mampu memiliki kenangan itu.

Satu kalimat dari Rendra yang selalu terkenang dalam ingatannya,
“Jagalah hati.”, entah itu untuk dirinya sendiri atau orang lain. Tapi pada akhirnya Veni sadar, bahwa ada kalanya dia berhenti berlari. Lari menghindari masalah, lari dari orang yang tak sempurna di matanya. Berhenti pada penerimaan jiwa dan menyandarkan diri pada satu hati.

Pesan singkat dari Linus yang dikirimkan melalui ponsel menyentak lamunannya di sudut ruang itu. Ia segera tersadar dari situasi yang justru saat itu memerlukan tanggapan. Setelah menikmati hening, mencoba mencari satu jawaban atas tiap pertanyaan yang terlontar dari hati. Ketidakpastian.. Dengan pikiran letih ia pun membaca pesan itu.

- Jika rasa itu sudah tidak ada lagi, pesanku “Jangan pernah menaruh hati di sembarang tempat”. Aku siap kamu tinggalkan kalau itu bisa membuatmu keluar dari situasi ini. Terima kasih untuk spirit yang akan terus ada untuk selamanya. Semoga! Tuhan memberkatimu  -

Belajar Wirausaha #1

Nenek moyangku orang pelaut gemar mengarung luas samudra *lupa syair.. lalala.. menembus badai, sudah biasa!

Diperjalanan pulang ke rumah kemaren malam, selepas kerja seharian, diatas si hitam (baca: motor) sy merenung melihat beberapa anak jalanan dan pengemis yang duduk dipinggir jalan.. pikiran kembali menerawang, apa yg bisa memutar roda kehidupan mereka? perhatian pemerintahkah? dalam wujud seperti apa? karena uang bukanlah solusi untuk pemecahan masalah sistemik akan kemiskinan yg ada.

Lantas, apa hubungannya dengan lagu nenek moyangku pemirsa? (dibaca dengan aksen khas tayangan insert). Seingat sy (semoga sy tidak amnesia), dalam silsilah turun temurun keluarga sy tidak ada yg memiliki jiwa wirausaha. Banyak yang terpaku pada pakem bahwa jadi orang itu kalau belajar dan kuliah yang tinggi dan punya kerjaan yang bagus (baca: pny gaji bulanan tetap). Nah pradigm seperti itu memacu kami (anak-anak generasi mereka) untuk meluluskan jenjang pendidikan minimal S1 dan mencari pekerjaan.

Sy sudah pernah mengalami hal serupa pemirsa, kerja dengan gaji pasti yang diterima setiap bulan. Mengalokasikan sejumlah uang untuk makan (is a must), shopping (windows shopping maksudnya), biaya komunikasi, beli buku, biaya kesehatan, tabungan, asuransi, dana cadangan, dll. Apa yang terjadi? kehidupan berjalan dengan monoton dan seperti itu-itu saja karena gaji hanyalah cukup untuk pemenuhan kebutuhan hidup harian dan sy harus memendam hasrat tinggi utk tidak bepergian (baca: liburan) menikmati indahnya dunia.

Tepatnya sebulan yang lalu mulailah saya berpikir, apa yang bisa merubah hidup saya (its not all about money). Sy sudah menyelesaikan pendidikan dan sedang menjalani masa ikatan dinas satu tahun sebagai konsekuensi beasiswa tetapi banyak hal terjadi di luar kehendak dan sy dihadapkan pada pilihan untuk terus berkarir di jalur pendidikan atau tidak. Setelah permenungan panjang, akhirnya sy menentukan jalur hidup sy untuk belajar wirausaha dan menekuni dunia itu. Dan kesempatan itu tiba-tiba saja muncul ketika saudara menghubungi bhw ada peluang utk menyewa cafe mahasiswa di salah satu kampus di sekitar Sudirman. Terlintas dibenak saya, “wah cafe untuk mahasiswa psti harga miring dan rame anak-anak datang”.

Kunjungan pun dimulai, setelah disurvei tenyata cafe itu terletak di salah satu lantai apartemen yang boleh dibilang lumayan elit. Biaya sewa sebulan Rp. 2 juta. Cukup mahal untuk ukuran cafe mahasiswa meski sudah bebas biaya air dan listik (fyi.di kampus saya biaya sewa kantin mahasiswa 1jt/bln). Hal baiknya adalah, itu merupakan cafe tunggal yang artinya tidak ada pesaing lain yang jualan disitu. Lesson learned #1. Peluang usaha adalah ide penting dalam entrepreneurship.

Dengan modal pemuasan batin, diberanikanlah utk menyewa cafe selama 1 tahun. Pembayaran dilakukan secara bertahap, untuk kontrak awal 3 bln dikeluarkan uang 3 jt dimuka dan 3 juta diakhir periode pembayaran. Setelah itu 2 juta dibayarkan setiap akhir bulan selama 9 bulan sisany. Dengan diskusi “sekenanya” akhirnya tercapai kesepakatan itu dan disahkan diatas kontrak. Seminggu yang lalu cafe itu soft opening, sengaja memang sy tidak menyediakan begitu banyak barang karena masih ingin melihat respon pasar dahulu. Hari pertama berjalan lancar, dan dihari kedua cafe buka ternyata mahasiswanya sepi gila.. omset tidak mencapai 100rb. Sungguh mengenaskan pemirsa! Saya bingung kenapa bisa terjadi.. Hari berikutnya saya mendapatkan info dari si mbak (karyawan yg jaga cafe) ternyata seminggu dua kali sebagian besar mahasiswa praktek di kampus yang lain sehingga tentu saja penjualan menjadi sepi. Saya mencari cara, gimana bisa dapat omset banyak kalau yang beli aja gak ada? “Wah curang nih pihak kampus tidak memberi tahu kondisi seperti ini”, kata saya dalam hati. Lesson learned #2. Pelajari baik-baik kontrak yang ada dan kemungkinan situasi yang akan terjadi di tempat usaha kita (faktor x). Perjelas kemungkinan negosiasi jika faktox x terjadi.

Hari ketiga, semangat yang diawal menyala-nyala mulai memudar. Wah pilot project bakalan rugi nih, ah ga papa itung-itung belajar (ungkapan menghibur diri) – ujar sy dalam hati. Si mbak yg jaga terlihat sudah mulai demotivasi meski baru dua hari lantaran cafe sepi, tp sy terus menyemangati dia. Berikut beberapa kalimat yang masih saya ingat , “Ya itu namanya usaha mbak, yg penting tetep semangat daripada kamu juga cuma di rumah ga blajar apa-apa khan (doi dulu PRT di rmh), klo gini khan kamu juga bisa blajar usaha. Kita sama-sama belajar kok.. Gajimu sekarang sudah naik, dapat uang harian, kamu bisa belajar gimana sih nangani customer, kamu yang jutek belajar untuk bersikap ramah, kayak di buku yang aku kasih ke kamu itu lho.. (doski sy kasih buku judulnya skill with people). Udah, sekarang kamu santai aja, mau sepi atau ramai itu khan faktor lain yg penting km udah usaha. Km bisa improvisasi juga dgn melakukan teknik penjualan yg menarik itu seperti apa (akhirnya ilmu pertama dari kuliah marketing management saya terpakai). Hari itu ditutup dengan rekor penjualan tertinggi melebihi hari petama. Mulai semangat lagi deh.. Lesson learned #3. Tetaplah semangat dan yakin akan usaha yang dilakukan.

Hari-hari berjalan dengan lancar, si mbak senang karena sudah mulai ada pelanggan sejati. Dia mulai mendengarkan semua keluhan dari pelanggan, “Mbak, harga kuenya kemahalan nih masak kecil gini harganya segitu”, “Mbak lauknya dibanyakin kenapa.. kurang nih klo cuma segini”, dlsb. Praktis saya hanya mengandalkan si mbak dan dialah pintu utama si customer membeli aneka produk (macam2 makanan berat dan ringan dan minuman dingin/panas, pulsa elektronik, dll). Setiap malam kami berdua berdiskusi memikirkan sebaiknya bagaimana kedepannya, dan kami mendapatkan beberapa solusi dari ide bersama. Misal meminta supplier, (kami dgn sistem konsinyasi) untuk menyesuaikan produk yang dititipkan dengan kantong mahasiswa. Dan untuk sementara kami menyiapkan sendiri beberapa produk siap saji. Lesson learned #4. Sebisa mungkin bukan kita yg menangani semuanya, biasakanlah diskusi dengan yang mengalami dan terlibat secara langsung dengan usaha kita karena terkadang karena fokus pada satu hal kita jadi melupakan hal penting yang lain.

Minggu pertama berlalu dengan cukup baik. Akhirnya bisa istirahat dengan tenang. Mulai menghitung-hitung omset seminggu.. uhh pretty bad pemirsa :( Omset 5 hari buka masih <2jt. Buruknya adalah ternyata uang penjualan makanan dan pulsa seimbang.. Jadi, tersadarlah saya bahwa keuntungan yg diperoleh sangat sedikit. Sampai hari ini, dalam dua minggu saya sudah 4 kali mendeposit ulang pulsa karena permintaan terhadap pulsa cukup banyak dan saya hanya mendepositkan jumlah yang tidak terlalu banyak. Rencananya akhir minggu kedua kami akan belanja lagi.. dan sebelumnya telah memperkirakan bahwa stok cukup hingga akhir minggu kedua (akhirnya sy secara langsung dpt mengaplikasikan ilmu forecasting technique). Entah kabar baik atau buruk. Hari pertama di minggu kedua jualan laku keras dan omset melonjak 2x lipat (Puji Tuhan hingga akhir minggu ini penjualan dahsyat). Stok ada yang mulai habis dan demikian halnya dengan deposit pulsa, karena tidak ada kendaraan dan terbatasnya waktu (saya masih fulltime bekerja) maka terpaksa saya membeli eceran, yang artinya bahwa stok yang saya punya hanya untuk jangka pendek dan saya mengeluarkan uang lebih mahal karena jika membeli dalam jumlah banyak bisa mendapatkan harga lebih murah. Lesson learned #5. Jangan jadi penjual tapi jadilah pengusaha.

Tentu saja usaha ini tak lepas dari beberapa masalah. Suatu hari permintaan terhadap pulsa sedang tinggi-tingginya, dan untuk CDMA pulsa sulit masuk. Banyak mahasiswa yang complain, dan saya menggaransi bahwa uang akan kembali jika memang pulsa tidak masuk dan saya jg meminta maaf kepada mereka (tentu saja melalui si mbak yg jaga). Salah satu makanan yg dijual di cafe adalah klapertart, pd banyak tempat makanan ini dicari tetapi entah kenapa di kampus ini mahasiswa tidak tertarik membeli (mungkin karena ukuran mini dan harga mahal). Akhirnya kami memberikan food testing kepada mereka dan memberikan setengah dari klapertart yang dijual secara free. Alhasil mereka mulai membeli karena memang rasa klapertart yang yummy :) Karena bagaimanapun jika sudah menyangkut makanan saya sgt percaya bahwa order winnernya adalah kualitas / rasa yang enak (lagi-lagi tidak sia-sia kuliah Operation Management yg saya pelajari). Lesson learned #6. Milikilah basic ilmu untuk berjualan. Pikirkan bagaimana menangani complain, melakukan approach kepada pembeli, customer retention hingga membuat pelanggan selalu membeli produk kita.

Hari ini genap 2 minggu (10 hari) usaha cafe+pulsa elektronik berjalan , semoga kedepannya tetap lancar. Sekali lagi pemirsa, ini semua bukan hanya melulu tentang uang. Toh kalo kita membicarakan kekayaan, uang berapapun tak akan cukup bukan? Buktinya apa? Orang sudah hidup sangat berkecukupan saja masih mau korupsi dan pengusaha kaya pun masih mau mangkir membayar pajak. Hal yang menyenangkan bahwa kita bisa menciptakan pekerjaan ya setidaknya membuat hidup orang lain lebih baik. Contohnya adalah si mbak dulu adalah PRT, dia cukup pintar sehingga sekarang dia sambil kuliah. Nah dengan dia sekarang bekerja di cafe 5 hr kerja dan upah setara UMR Jakarta maka dia bs membiayai kuliahnya dan sedikit berbagi dengan keluarganya di kampung.

Berasa saya punya banyak uang saja ya.. pdahal tidak juga pemirsa, namun satu hal yang terasa adalah ketika kita bisa membuat orang lebih senang maka kebahagiaan juga mengikuti tiap langkah kita. Trust me, it works!

Kali ini saya sangat mengamini statement Pak Ciputra bahwa entrepreneur itu dapat dipelajari bukan karena faktor turunan. So pesan terakhir dari saya (bukan commercial break), jangan takut untuk usaha.. sekecil apa pun itu (seperti saya contohnya). Ilustrasi kecil yang saya harap bisa membangunkan generasi muda (seperti saya), ini ulasan kecil bagaimana saya memperoleh uang makan tambahan (fyi. saya hobi banget kulier. hehehe..)

Pulsa elektronik dibeli oleh 15 org setiap hari dgn keuntungan rata-rata Rp 1.800 maka dalam 1 bulan (20 hari) saya bisa mendapatkan uang tambahan Rp 540rb. Nominal yang cukup kecil kalau kita lihat sepintas, tapi apakah ada orang yang mau memberi uang cuma-cuma kepada kita sebanyak itu?  (kecuali bangsa kita mau selamanya memiliki mental pengemis). Just remember, semakin banyak kita menerima maka semakin banyak pula yang bisa kita bagikan..

Sekali lagi, usaha bukan hanya sekedar tentang how to get money :) Kalau anda tidak setuju dengan pendapat saya tidak masalah lho.. ~perbedaan itu wajar2 saja dan syah kok dan tidak akan ada tuntutan pidana atas hal ini. hehe.. The other think (kembali pada renungan saya melihat pengemis dijalan), in my opinion salah satu cara lain untuk mendobrak kemiskinan di tanah air tercinta kita bukan hanya melalui pendidikan formal di perguruan tinggi (meski sy juga bergelar MM) tp juga bisa melalui entrepreneurship. Let’s have ur own business and share to others! Sekian pemirsa insert sore hari ini karena saya mau menyambangi cafe dulu sebelum terjebak kemacetan Sudirman every weekend..

Have a nice weekend dan selamat mencoba usaha dari nol :)

Time

Setelah sekian lama akhirnya saya bisa memposting tulisan lagi. Tulisan ini saya terima tadi pagi dari sebuah email yang dikirim oleh kakak saya. Saya sangat terkesan dengan isinya sehingga saya putuskan untuk mengcopy di blog saya. Saya tau ini bukan tulisan original-nya. Siapapun orang pertama yang pernah menulisnya, saya numpang copy ya tapi jika anda keberatan tulisan ini saya muat silahkan beritahu saya nanti saya retrieve :)
Eniwey, this quote is so so inspiring me! something really strikes me too :(

HANYA ADA 3 HARI DALAM HIDUP INI
 

YANG KE-1 : HARI KEMARIN
Kamu tak bisa mengubah apapun yg telah terjadi…
Kamu tak bisa menarik perkataan yg telah terucapkan…
Kamu tak mungkin lagi menghapus kesalahan…
Dan mengulangi kegembiraan atau kesedihan yg kamu rasakan kemarin…
Biarkan hari kemarin lewat…
LEPASKAN saja…

YANG KE-2 : HARI ESOK
Hingga mentari terbit esok hari, kamu tak tahu apa yg akan terjadi…
Kamu belum bs melakukan apa-apa untuk hari esok…
Kamu tak mungkin tahu…
Sedih atau ceria diesok hari…
Karena hari esok belum tiba…
BIARKAN saja…

YANG TERSISA KINI HANYALAH : HARI INI
Pintu masa lalu telah tertutup…
Pintu masa depanmu blm tiba…
Pusatkan saja dirimu untuk hari ini…
Kamu dpt mengerjakan lebih banyak hal untuk hari ini…
Bila kamu mampu melupakan hari kemarin…
Dan melepaskan ketakutan akan esok hari…
HIDUPLAH HARI INI…!!!

Karena masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yg rumit…
Hiduplah apa adanya…
Karena yang ada hanyalah hari ini…
Perlakukan setiap orang dgn kebaikan hatimu dan rasa hormat…
Meski mereka berlaku buruk pada kamu…
Sayangilah seseorang sepenuh hati hari ini…
Karena mungkin esok cerita sdh berganti…
Ingatlah bhw kamu menunjukkan penghargaan kepada orang lain, bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri kamu sendiri…
Jadi jangan biarkan masa lalu mengekangmu, atau masa depan membuatmu bingung…
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu… Sepenuh jiwa ragamu…

Berterima kasihlah pada orang yg telah melukai hatimu, karena dia telah membuat hatimu kuat…
Berterima kasihlah pada orang yg telah membohongimu, karena dia membuat hidupmu makin bijaksana…
Berterima kasihlah pada orang yang telah membencimu, karena dia yang mengasah ketegaranmu…
Dan berterima kasihlah pada orang yg telah menyayangimu, karena dialah ANUGERAH TERINDAH dalam hidupmu…

Have a wonderful day every one!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.